Pusaka Peninggalan Sunan Kudus

Prosesi Ritual Jamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kudus

Prosesi Ritual Jamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kudus – Ada sebuah ritual unik yang biasa dilakukan di Kawasan tajug (Gazebo) kompleks Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah. Pusaka sakti peninggalan Sunan Kudus (Syekh Ja’far Shodiq) yakni keris Kiai Cinthaka dan dua tombak trisula dijamas atau dibersihkan.

Tradisi penjamasan senjata tradisional yang diperkirakan berusia sekitar 600 tahun itu dikerjakan setiap tahun. Diselenggarakan oleh Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK). Waktu penjamasan pusaka Sunan Kudus tepatnya pada bulan Zulhijjah di hari Senin atau Kamis pertama setelah hari Tasyrik (tanggal 11,12, dan 13 Zulhijjah).

Prosesi Ritual Jamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kudus

Ritual penjamasan dimulai pada pagi sekitar pukul 07.00 WIB dengan diawali pembacaan doa tahlil hingga pembacaan ayat Al Quran. Sebelum dilaksanakan ritual penjamasan, diawali terlebih dahulu dengan berziarah ke Makam Sunan Kudus. Selama ini, Keris Kiai Cinthaka yang berkelok sembilan itu disimpan khusus di atas Tajug, sementara dua tombak trisula terpasang di mihrab Masjid Menara Kudus.

Dalam proses penjamasan, pusaka Sunan Kudus tersebut dicelup dan disiram dengan “banyu londo” atau air rendaman merang ketan hitam. Senjata tradisional itu kemudian dibersihkan menggunakan air jeruk nipis dan bubuk warangan. Konon, air jeruk nipis dan bubuk warangan dipercaya dapat mempertahankan keaslian atau mencegah karat pada benda pusaka yang berumur ratusan tahun tersebut.

Benda pusaka tersebut peninggalan Sunan Kudus selanjutnya dijemur di atas sekam ketan hitam. Bahkan luar biasanya, Warangan didatangkan khusus dari Keraton Solo untuk menjamas pusaka Sunan Kudus. Pusaka bertuah tersebut juga diberi wewangian non alkohol yang didatangkan langsung dari Makkah.


BACA JUGA :


Kisah Kesaktian Keris Bertuah Sunan Kudus Padamkan Api

Keris Kiai Cinthaka merupakan pusaka pribadi Sunan Kudus. Dalam tradisi Jawa pada masa itu, hampir setiap orang memiliki pusaka pribadi. Hal itu merupakan bentuk kesiap-siagaan dalam menjalani hidup. Ternyata hal itu juga dipraktikkan oleh Sunan Kudus pada masa itu. Keris Kiai Cinthaka adalah pusaka bertuah Sunan Kudus. Suatu ketika, keris Kiai Cinthaka pernah dipinjam oleh pihak Kraton Solo. Saat itu terjadi kebakaran di Keraton Solo.

Konon, setelah keris itu dihunuskan, api yang membakar kraton seketika padam. Hal itulah yang membuat wilayah Kudus menjalin hubungan baik sampai saat ini dengan Keraton Solo. Tradisi ini turun menurun dari leluhur untuk menjaga kelestarian peninggalan Sunan Kudus. Yang terpenting, adalah diambil sisi positifnya jadi bukan berarti musyrik atau syirik. Dalam kegiatan penjamasan pusaka Sunan Kudus, meskipun hanya mengundang kalangan tertentu namun masyarakat umum yang hendak menyaksikan diperbolehkan.

Tradisi makan opor Setelah Jamasan Pusaka

Rampung prosesi penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kudus, dilanjutkan dengan acara makan bersama dengan menu khas jajanan pasar dan nasi opor ayam panggang. Pemilihan jajan pasar karena sebagai bentuk dan upaya melestarikan tradisi leluhur. Sementara untuk opor ayam panggang dipilih karena merupakan menu kesukaan Sunan Kudus semasa hidup.

37 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini